Photo Selfi Meningkatkan Operasi Bedah Plastik

Posted by administrator 29/09/2017 0 Comment(s)

Mengapa kita suka foto selfie atau gemar membuat foto diri sendiri yang diambil oleh kamera digital, kamera smartphone atau webcam yang akan diunggah ke berbagai media sosial di dunia maya. Menurut ahli ilmu saraf, James Kilner dari University College London. Dalam keseharian kita sebenarnya lebih banyak memperhatikan dan menginterpretasikan wajah dan ekspresi wajah orang lain. Kita belajar mengenai ekspresi wajah dari orang lain dan kita melakukan pengenalan bentuk wajah dari wajah orang lain. Namun, selama kita hidup, sedikit sekali pengalaman dan pengetahuan kita terhadap wajah dan terutama ekspresi wajah kita sendiri.

Ini membuat pengetahuan kita mengenai wajah dan ekspresi wajah kita sendiri sangat minim. Hal inilah yang rupanya membuat kita terobsesi untuk mengambil foto 'selfie' berkali-kali sehingga kita dapat melihat sendiri  berbagai ekspresi wajah yang kita ciptakan dan menentukan ekspresi wajah mana yang paling kita sukai untuk dibagikan di media sosial.

Meskipun hasil foto selfie dapat dimanipulasi dengan aplikasi tertentu agar terlihat menarik, sebagian orang tampaknya tak mau tanggung-tanggung untuk urusan penampilan. Seperti halnya yang sedang marak dilakukan di negara Amerika.

Berdasarkan hasil polling yang dilakukan American Academy of Facial Plastic and Reconstructive Surgery (AAFPRS) terhadap 2.700 anggotanya, diketahui bahwa 1 dari 3 anggota AAFPRS mengaku mendapatkan peningkatan permintaan untuk pasien-pasien yang aware dengan imej mereka di media sosial.

Prosedur bedah yang diminta antara lain eyelid surgery atau mengurangi kelebihan kulit di kelopak mata hingga rhinoplasty atau lebih populer dikenal dengan 'nose job'.

Peningkatan ini dimulai sejak tahun 2013. AAFPRS mencatat 'bedah hidung' mengalami peningkatan sebesar 10 persen dalam kurun 2012-2013. Begitu juga dengan cangkok rambut yang melonjak sebanyak tujuh persen. Sedangkan prosedur pengangkatan kelopak mata naik sebanyak enam persen.

"Namun dalam kurun 2,5 tahun belakangan, kami mencatat peningkatannya mencapai 25 persen. Ini sangat signifikan," ungkap Dr Sam Rizk, salah satu dokter bedah plastik yang berpraktik di Manhattan seperti dikutip dari NY Daily News, Selasa (2/12/2014).

Dr Rizk bahkan mengungkap sebagian besar kliennya datang dengan memperlihatkan iPhone dan hasil jepretan selfie mereka. Rata-rata dari mereka ingin menunjukkan betapa kecewanya mereka dengan foto tersebut.

Beruntung Dr Rizk tidak mau asal menuruti permintaan pasiennya. "Padahal tak semua orang yang meminta bedah itu sebenarnya butuh. Saya kira budaya selfie ini menghasilkan imej yang salah, orang-orang ingin menunjukkan sesuatu yang bukan dirinya," keluhnya.

Ia mengaku sering menolak pasien hanya karena mereka ingin terlihat menarik saat selfie. Pasien-pasien tersebut tentu marah ketika Dr Rizk mengatakan mereka tak butuh operasi dan beralih ke dokter lain yang mau melakukannya.

"Terlalu banyak selfie justru mengindikasikan adanya obsesi terhadap diri sendiri, dan rasa insecure. Ini tidaklah sehat dan bila selfie ini sudah mengakar, obsesi dan insecure tadi justru akan makin memburuk," paparnya.

Sependapat dengan Dr Rizk, seorang make up artist asal New York, Ramy Gafni menyarankan agar orang-orang yang gemar selfie lebih baik tidak melakukan bedah plastik. "Gunakan saja make up yang bersih, rapikan alis, dan tambahkan sedikit warna di bibir Anda. Ini akan menghasilkan selfie terbaik," katanya.

Menurutnya, orang yang gemar selfie hanya perlu meningkatkan fitur di wajahnya, bukannya mengubah fitur wajahnya menjadi sesuatu yang bukan dirinya. "Kan ada juga aplikasi di ponsel yang bisa memuluskan wajah atau jerawat. Ini juga lebih ekonomis," tutupnya.

Foto 'selfie' seharusnya dapat memberikan dampak yang baik yaitu sebagai alat untuk mengenali diri sendiri lebih baik dan juga untuk meningkatkan rasa cinta dan kepercayaan diri. Namun kenyataannya yang terjadi lebih memberikan dampak buruk secara perlahan-lahan cenderung menghasilkan imej yang salah salah satunya orang-orang ingin menunjukkan sesuatu yang bukan dirinya sebagai bentuk kepercayaan diri dan pengakuan dari orang lain. Hal ini menjadikan alasan peningkatan permintaan operasi bedah plastik yang  sedang terjadi saat-saat ini. 

Apalagi jika foto selfi
 digunakan dengan sembarangan dan tanpa aturan berkaitan dengan kecenderungan kepribadian narsisistik, yang pada umumnya kurang disukai maka diperlukan suatu kontrol yang baik terhadap kebiasaan/perilaku ini agar tidak membuat diri sendiri menjadi kurang disukai karena kesan cinta diri yang besar.
Tags: Selfi oprasi

Leave a Comment